Beranda | Artikel
Khutbah Jumat Singkat: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan
21 jam lalu

Khutbah Jumat Singkat: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 23 Ramadhan 1447 H / 13 Maret 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 3)

Beramal saleh pada malam tersebut memiliki nilai yang setara dengan beribadah selama seribu bulan. Mengingat keutamaan yang luar biasa ini hanya ada pada sepuluh malam terakhir, seorang Muslim yang mengharapkan surga dan pahala besar akan berlomba-lomba mendapatkannya. Ibnu Qayyim Rahimahullah bahkan pernah berujar bahwa sekiranya Lailatul Qadar hanya ada satu malam dalam setahun, niscaya seseorang harus tetap mencarinya. Maka, sangat merugi jika seseorang bermalas-malasan padahal waktu yang tersisa hanya sepuluh hari.

Meneladani Semangat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Semangat ibadah harus ditingkatkan di penghujung Ramadhan, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengisahkan dalam sebuah hadits:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki sepuluh malam terakhir (Ramadhan), beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat justru semakin menguatkan ibadah menjelang berakhirnya Ramadhan. Untuk mencapai derajat ini, seorang hamba membutuhkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Prinsip utama dalam beramal adalah mengakhiri sesuatu dengan sebaik-baiknya, sebab para ulama berpendapat bahwa amalan itu dinilai dari penutupnya.

Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir

Para ulama menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr [89]: 1-2)

Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan. Para Salafus Shalih sangat mengagungkan dua waktu penting, yaitu sepuluh malam terakhir Ramadhan dan sepuluh awal bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, jangan sampai suasana persiapan lebaran, seperti pakaian baru atau hidangan kue, mengalihkan perhatian dari kesungguhan beribadah demi mendapatkan ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar tetap istiqamah hingga akhir:

Saling Menasihati: Memberikan penguatan kepada sesama teman agar tidak kendur dalam beribadah.
Mujahadah: Bersungguh-sungguh melawan rasa malas. Setan tidak ingin manusia meraih kemuliaan, sehingga diperlukan perjuangan batin untuk tetap konsisten hingga akhir Ramadhan.

Khutbah Jumat Kedua: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan

Tentunya jangan lupa menuntaskan kewajiban sosial di akhir Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang miskin.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud)

Zakat fitrah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyucikan orang yang berpuasa dari dua perkara utama, yaitu perbuatan sia-sia dan perkataan yang tidak baik. Selama menjalankan ibadah puasa, seseorang mungkin tidak sengaja melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat atau mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Melalui zakat fitrah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyucikan puasa tersebut dari segala kekurangan.

Kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim, baik dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun wanita, hingga orang merdeka maupun hamba sahaya. Ketetapan ini adalah bentuk kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan bagi para hamba-Nya. 

Keutamaan Mendapatkan Ampunan

Harapan utama setiap hamba adalah keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan telah mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal yang sangat dikhawatirkan adalah menjadi golongan orang yang didoakan keburukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau menyebutkan kerugian bagi seseorang yang berkesempatan menemui Ramadhan, namun saat bulan tersebut berlalu, ia tidak mendapatkan ampunan.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan mengenai kecelakaan bagi seorang hamba:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Kondisi tersebut menimpa mereka yang lalai serta hanya mengikuti syahwat dan hawa nafsu selama bulan suci.

Download mp3 Khutbah Jumat: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Meraih Kemuliaan di Penghujung Ramadhan” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56130-khutbah-jumat-singkat-meraih-kemuliaan-di-penghujung-ramadhan/